Baru selesai membaca Partikel karangan DEE, membaca buku satu ini benar-benar membawa saya (dan mungkin pembaca lain) dalam roller-coaster emosi dan spiritualitas. Ada banyak pertanyaan sekaligus kekaguman setelah membacanya. Tapi bukan bukunya yang mau saya bahas sekarang, tapi tentang sesuatu yang sangat sensitif di dunia apalagi di negara kita ini, yaitu agama.
Saya adalah anak yang terlahir dari keluarga yang cukup beragam. Bapak saya Katolik, agama yang sekarang menjadi agama saya juga. Ibu saya agamanya tidak ada di antara kelima agama yang selalu diajarkan di pelajaran PPKN jaman SD dulu. Ibu saya memiliki kepercayaannya sendiri. Dari mereka berdua saya belajar keberagaman dan perbedaan. Saya diajarkan bahwa agama hanyalah sekedar cara yang dipilih manusia untuk menyembah Tuhan, untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Agama adalah sarana dimana manusia menciptakan rasa amannya. Ibu saya mungkin tidak beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, atau Budha, tapi di rumah saya yakin tidak ada yang spiritualitasnya melebihi Ibu saya. Tidak ada yang kedekatannya dengan Tuhan melebihi Ibu saya.
Sampai SMA saya bersekolah di sekolah swasta Katolik, dimana mayoritas muridnya juga beragama Katolik. Saya sampai SMP diberi pelajaran agama Katolik, dan waktu SMA diberi pelajaran Religiositas yang mempelajari berbagai macam agama. Bisa dibilang dari kecil saya bukan anak yang religius, dari kecil saya tidak suka harus bangun pagi tiap hari Minggu untuk ke gereja, rasa malas seringnya mendominasi. Saya tidak pernah ikut sekolah minggu waktu kecil, tidak seperti anak-anak Katolik pada umumnya. Sampai SMA pun rasanya saya belum menemukan keinginan untuk ke gereja setiap hari Minggu, saya ke gereja semata-mata karena keharusan. Saya berpikir berdoa tidak harus di gereja, karena Tuhan ada dimana-mana kan?
Justru saat saya mulai kuliah, rasa ingin itu muncul, walaupun masih sering diliputi rasa malas. Tapi tidak jarang perasaan ingin ke gereja dan bertemu Tuhan itu hadir. Saya jadi lebih sering ke gereja. Dan saat kuliah inilah tantangan untuk bertoleransi semakin besar. Sekarang setelah berkuliah di universitas negeri, saya berteman dengan orang-orang dengan agama yang berbeda-beda, tapi mayoritas adalah agama Islam. Saya tidak punya masalah sama sekali dengan teman-teman saya yang beragama lain. Tapi kadang-kadang saya mempertanyakan pandangan beberapa teman saya tentang agama, agama mereka, agama saya, agama orang-orang lain.
Banyak saya mendengar sebutan-sebutan seperti “Tuhanku” atau “Tuhanmu”. Saya menganggap ada kata kepemilikan di belakang kata “Tuhan” itu aneh sekali. Seakan Tuhan itu berbeda-beda sesuai agama kita masing-masing. Bagaimana mungkin? Menurut saya Tuhan kita semua sama, Tuhan yang menciptakan kita, yang membuat kita ada di dunia ini.
Dan semakin lama saya semakin menyadari betapa agama begitu mengkotak-kotakkan kita. Membelenggu kita dari spiritualitas yang sebenarnya. Memisahkan kita semakin jauh dari kereligiositasan kita sendiri.
Yang saya tahu, saya percaya pada Tuhan. Tuhan Maha segalanya menurut saya.
Kalau anda tidak sependapat dengan saya, gakpapa kok, saya hanya menyampaikan apa yang saya pikirkan saja dan saya tidak memaksakan apapun pada siapapun. Peace.






